Penyebab dan Cara Mengatasi Keracunan Makanan pada Balita

Penyebab dan Cara Mengatasi Keracunan Makanan pada Balita

Penyebab dan Cara Mengatasi Keracunan Makanan pada Balita

Ketahui serba-serbi keracunan makanan pada balita lewat ulasan berikut, Mum!

Mum, mengingat di usianya kini sistem kekebalan tubuh si Kecil belum mampu bekerja secara sempurna, balita kesayangan Mum bisa jadi rentan mengalami gangguan pencernaan, termasuk keracunan makanan. Untuk itu, yuk, bekali diri dengan info seputar keracunan makanan pada balita, penyebab, dan cara mengatasinya. Dengan begini, selain bisa membantu si Kecil terhindar dari masalah ini, Mum juga bisa memberikan penanganan yang tepat jika tiba-tiba balita kesayangan Mum mengalaminya. Berikut info selengkapnya.

Aktivitas yang bisa dilakukan

1.Memahami Keracunan Makanan Pada Balita

Selama ini, banyak orang tua beranggapan, keracunan makanan pada balita terjadi karena si Kecil alergi dengan makanan tersebut=. Padahal, faktanya tak selalu demikian, Mum.

Keracunan makanan juga bisa terjadi karena makanan apa pun yang dikonsumsi si Kecil terkontaminasi oleh virus dan bakteri. Beberapa bakteri yang sering kali memicu gangguan sistem pencernaan serta keracunan makanan antara lain Campylobacter, Salmonella, dan Escherichia coli (E. coli). Sementara, virus yang sering menyebabkan keracunan di antaranya yaitu Norovirus dan Rotavirus.

2.Gejala Keracunan Yang Muncul Berdasarkan Pemicunya

Gejala keracunan yang tampak pada balita akan berbeda-beda, tergantung faktor pemicunya, Mum. Untuk mengetahui bakteri atau virus mana yang menjadi pemicu keracunan yang dialami si Kecil, yuk simak info di bawah ini:

  1. Bakteri Campylobacter

Menurut para ahli, infeksi bakteri Camplyobacter adalah salah satu penyebab paling utama dalam kasus keracunan makanan, Mum. Bakteri jenis ini biasanya masuk ke tubuh lewat konsumsi daging unggas dan susu sapi segar yang tidak dimasak sempurna, serta bisa juga berasal dari air yang tercemar.

Infeksi bakteri jenis ini biasanya ditandai dengan gejala muntah-muntah, demam, pusing, sakit perut, dan diare. Umumnya, gejala ini berlangsung sekitar 2-5 hari. Namun, bila sistem imun si Kecil lemah, bukan tak mungkin gejala ini berlangsung lebih lama lagi, bahkan hingga 10 hari.

  1. Bakteri Salmonella

Seperti halnya Camplyobacter, bakteri Salmonella merupakan salah satu penyebab umum yang memicu keracunan makanan. Bakteri Salmonella banyak ditemukan pada susu sapi dan seafood mentah, serta telur mentah atau setengah matang. Inilah alasannya, Mum perlu benar-benar memastikan semua hidangan sudah diproses dengan sempurna sebelum disajikan untuk si Kecil.

Bila si Kecil terinfeksi bakteri Salmonella, gejala yang biasanya muncul antara lain berupa sakit perut, demam, dan diare. Pada beberapa kasus, umumnya hal ini juga diiringi dengan timbulnya bintik kecil kemerahan pada kulit si Kecil. Biasanya, infeksi Salmonella sendiri berlangsung antara 4-7 hari.     

  1. Bakteri E. coli

Bakteri E. coli biasanya terdapat di kotoran sapi dan kotoran manusia, Mum. Bakteri ini dapat menginfeksi manusia akibat kontak langsung, makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, atau air yang terkontaminasi. Oleh karena itu, infeksi dari bakteri jenis ini bisa dihindari dengan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar dari kotoran. Hal ini bisa dilakukan dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, serta setiap sehabis menggunakan toilet atau kamar mandi. Infeksi bakteri E. coli biasanya ditandai dengan gejala sakit perut, muntah-muntah, dan diare yang disertai bercak darah pada feses. Umumnya, hal ini berlangsung antara 2-5 hari.

  1. Norovirus dan Rotavirus

Perlu diketahui bahwa gejala keracunan akibat Norovirus maupun Rotavirus biasanya hampir sama, Mum. Saat terinfeksi Norovirus ataupun Rotavirus, biasanya si Kecil akan mengalami demam, diare, dan muntah-muntah. Bedanya, bila disebabkan oleh Norovirus, hal ini berlangsung sebentar dan bisa sembuh tanpa pengobatan. Sementara, bila terinfeksi Rotavirus, demam dan diare bisa berlangsung lebih lama, yakni antara 3-8 hari.  

3.Yang Bisa Dilakukan Saat Si Kecil Keracunan Makanan

Mengingat mual-muntah serta diare berpotensi membuat cairan tubuh si Kecil terkuras, sebagai pertolongan pertama, Mum dianjurkan untuk memberikan oralit (cairan gula dan garam) pada balita kesayangan. Sistem pencernaan anak pun mungkin terganggu selama keracunan. Jadi, sebaiknya Mum memberikan si Kecil makanan-makanan yang lebih mudah dicerna, misalnya bubur. Hindari memberikan makanan dengan tekstur yang terlalu keras dan memiliki aroma atau rasa yang terlalu tajam. Selanjutnya Mum bisa membawa si Kecil ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Supaya si Kecil bisa segera pulih, perkuat juga imunitasnya dengan memberinya susu pertumbuhan balita kaya nutrisi seperti Friso Gold 4. Diperkaya Prebiotik, susu anak ini membantu menjaga kadar bakteri baik di usus si Kecil agar ia dapat lebih terlindungi dari bakteri jahat pemicu beragam gangguan pencernaan. Dengan kandungan ALA, LA, Nukleotida, Vitamin A, C, dan E, Zink, Zat Besi, serta Selenium, Friso Gold 4 juga membantu Mum memenuhi kebutuhan nutrisi harian si Kecil agar ia tumbuh sehat dan kuat dari dalam. Terakhir namun tak kalah penting, Friso juga diproduksi dengan teknologi LockNutri untuk memastikan kualitas Protein di dalam susu selalu terjaga. Dengan begitu, nutrisinya pun lebih mudah diserap dan dicerna oleh tubuh si Kecil, Mum.

Nah, semoga info ini bermanfaat dan bisa membantu Mum menjaga si Kecil dari keracunan makanan, ya.

  • 1
  • 2
  • 3

Friso Promo

Ayo Ajak si Kecil Berenang dengan Swimming Ring dari Pembelian Friso
Dapatkan pelampung karakter hewan dari setiap pembelian Friso Gold 3 atau Friso Gold 4 sebelum kehabisan!
Selengkapnya

Beli Online Lebih Hemat & Mudah

Friso Online Shop

Nikmati kemudahan berbelanja di shop.friso.co.id. Bisa bayar saat belanjaan di antar ke rumah!

Beli disini