Lompat ke isi utama
ASI Eksklusif

Pemberian ASI merupakan nutrisi terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan merupakan cara optimal untuk memberi makan kepada bayi. Setelah itu bayi harus menerima makanan pelengkap dengan terus menyusu hingga dua tahun atau lebih.

Nutrisi ibu yang baik membantu mempertahankan persediaan dan kualitas ASI yang memadai.

Pengenalan pemberian susu botol secara tidak benar, sebagian atau seluruhnya, atau makanan dan minuman pelengkap lainnya dapat memberikan dampak negatif pada proses menyusui, yang mungkin tidak dapat dipulihkan lagi.

Konsultasikan dengan dokter Anda dan pertimbangkan implikasi sosial dan finansial sebelum memutuskan untuk menggunakan pengganti ASI atau jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusui.

Ikuti petunjuk penggunaan, persiapan dan penyimpanan pengganti ASI atau makanan dan minuman komplementer lainnya dengan hati-hati karena penggunaan yang tidak tepat atau tidak diperlukan dapat menimbulkan bahaya terhadap kesehatan.

shutterstock-691259002_I4VomwYsLO

3 Jenis Imunisasi yang Tidak Diperbolehkan bagi Ibu Hamil

Hati-hati, tidak semua imunisasi boleh dilakukan saat hamil karena dapat berbahaya pada si Kecil dalam kandungan. Cari tahu lebih lanjut yuk, Mum!

Mum mungkin sudah tahu, ada beberapa jenis imunisasi ibu hamil yang dianjurkan. Misalnya, imunisasi influenza, tetanus toksoid, dan hepatitis B. Namun, ternyata ada juga imunisasi yang dilarang selama masa kehamilan, di antaranya vaksin MMR, varicela, dan vaksin HPV.

Penasaran kenapa ketiga vaksin itu dilarang? Yuk, simak ulasan selengkapnya di bawah ini, Mum!

shutterstock-337419074_VAuwZqDi5c

1. Vaksin Measles, Mumps, Rubella (MMR)

Vaksin MMR atau yang juga dikenal dengan istilah vaksin gondok, campak, dan rubella termasuk salah satu vaksin yang tidak dianjurkan untuk diberikan, baik kepada ibu hamil maupun wanita yang tengah mengikuti program kehamilan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, wanita yang menerima vaksin MMR tidak boleh hamil dulu, setidaknya selama 28 hari atau empat minggu setelah vaksinasi.

Alasannya, vaksin MMR menggunakan virus yang masih hidup dan dilemahkan. Secara umum, hal ini berisiko menyebabkan kelainan pada janin; seperti gangguan mental, tidak bisa mendengar atau tuli, serta masalah mata dan jantung. Bila vaksin ini telanjur diberikan pada wanita yang mengalami kehamilan dalam 28 hari setelah vaksinasi, maka ia dianjurkan mengikuti konseling dari dokter mengenai apa saja risiko vaksin ini terhadap janin, serta langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalkannya.

2. Vaksin Varicella

Vaksin berikutnya yang juga harus dihindari oleh para ibu hamil dan wanita yang mengikuti program kehamilan adalah vaksin varisela. Vaksin yang juga dikenal dengan istilah varisela foster, chickenpox, atau vaksin untuk cacar air ini, mengandung virus varicella-zoster yang berisiko menyebabkan ibu hamil mengalami cacar air. Memang kasus komplikasi yang serius terbilang jarang terjadi. Akan tetapi, risiko ini dapat meningkat seiring bertambahnya usia, Mum.

Mengingat jenis imunisasi terlarang bagi ibu hamil ini serupa dengan vaksin MMR – yakni menggunakan virus yang masih hidup dan dilemahkan, wanita yang mendapat vaksin varisela juga tidak diperbolehkan hamil dulu, setidaknya hingga satu bulan setelah imunisasi dilakukan.

Apabila vaksin ini telanjur diberikan pada wanita yang sedang hamil atau mengalami kehamilan satu bulan setelah mendapatkan vaksin, ia dianjurkan berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk mengenali risiko lebih lanjut dari vaksin ini, baik terhadap dirinya maupun calon buah hati di dalam kandungan, Mum.

3. Vaksin Human Papillomavirus (HPV)

Seperti yang Mum ketahui, kanker serviks termasuk salah satu penyakit paling mematikan bagi wanita. Ini sebabnya, setiap wanita perlu mendapatkan vaksin HPV untuk meminimalkan risiko penyakit ini. Meski begitu, jika Mum sedang hamil, imunisasi HPV sebaiknya ditunda dulu.

Saat seseorang diberi vaksin, tubuhnya akan terangsang menghasilkan antibodi. Antibodi ini baru bisa terbentuk dengan optimal bila orang yang divaksin memiliki daya tahan tubuh yang baik juga. Sementara, seperti yang Mum tahu, imunitas tubuh cenderung mengalami penurunan di masa kehamilan. Dengan kata lain, meski vaksin HPV termasuk jenis imunisasi ibu hamil yang tidak berbahaya bagi janin, Mum bisa jadi tidak dapat mendapatkan manfaat pemberian vaksin HPV dengan maksimal karena tubuh tidak dapat membentuk antibodi yang bagus saat hamil.

Dikutip dari situs berita online Detik.com, menurut dr. Kartiwa Hadi Nuryanto SpOG(K)Onk dari Divisi Onkologi Ginekologi Departemen Obstetri Ginekologi RS Cipto Mangunkusumo, vaksinasi HPV sebaiknya dilakukan setelah Mum melahirkan saja. Vaksinasi ini aman dan tidak memberikan dampak negatif bagi proses menyusui. Memang, seperti halnya imunisasi biasa, vaksinasi HPV mungkin saja memberikan efek samping berupa demam, nyeri pada bagian yang disuntik, bengkak, dan juga timbul ruam. Namun, semuanya masih dalam batas normal dan tidak membahayakan, Mum.

shutterstock-275999423_fMSTf3U7hU

Imunisasi untuk Ibu hamil

Secara umum, dokter memang tak akan merekomendasikan Mum untuk melakukan vaksinasi dari virus yang hidup atau dilemahkan. Sebab, seperti yang sudah dipaparkan di atas, hal itu cukup berisiko terhadap kesehatan dan tumbuh kembang janin dalam kandungan. Akan tetapi, bila jenis vaksin yang diberikan berasal dari virus yang sudah mati atau virus itu sudah tidak aktif lagi, maka hal ini masih diperbolehkan.

Supaya Mum dan calon buah hati mendapatkan perlindungan terbaik, disarankan untuk melakukan vaksinasi sebelum masa kehamilan. Dengan begini, tubuh punya waktu yang cukup untuk membentuk antibodi setelah vaksinasi dilakukan. Supaya vaksinasi tepat sasaran, Mum dapat berkonsultasi dengan dokter kandungan terlebih dulu untuk mendapatkan info seputar kehamilan dan imunisasi apa saja yang diperlukan.

Di samping melakukan imunisasi yang aman dan diperbolehkan saat hamil, meningkatkan kekebalan tubuh Mum dari berbagai penyakit juga dapat dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan nutrisi di masa kehamilan. Oleh sebab itu, usahakan untuk selalu mengonsumsi segelas Frisomum Gold setiap hari, ya, Mum. Mengandung Asam Folat, ALA, LA, Nukleotida, Kalsium, dan Zat Besi, FrisoMum Gold membantu memenuhi kebutuhan nutrisi Mum selama hamil dan menyusui agar Mum senantiasa sehat, sekaligus membantu memperkuat dan melindungi janin dari dalam.

Nah, itulah info seputar jenis imunisasi ibu hamil yang harus dihindari. Semoga info ini bermanfaat ya, Mum.