Lompat ke isi utama
Biduran pada Anak? Ini Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Biduran pada Anak? Ini Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Seperti apa gejala biduran pada anak? Apa saja penyebab masalah kesehatan ini? Dan bagaimana cara mengatasinya? Simak di sini yuk

Buah hati Mums mengeluhkan rasa gatal pada kulit yang disertai dengan ruam merah? Bisa jadi kondisi tersebut merupakan biduran pada anak. Sebagian Mums mungkin khawatir melihat anaknya merasa tidak nyaman karena rasa gatal yang muncul, apalagi jika anak rewel secara terus menerus. 

Jika kondisi tersebut muncul, sebaiknya Mums tidak perlu panik dan khawatir berlebihan, sebab kondisi ini memang umum dialami oleh anak-anak. Biduran, atau dikenal pula dengan istilah urtikaria, adalah reaksi pada kulit yang ditandai dengan kemunculan bentol-bentol berwarna kemerahan, biasanya disertai dengan rasa gatal yang mengganggu. Biduran pada anak dapat muncul di seluruh bagian tubuh, bahkan terkadang bisa muncul secara tiba-tiba.

Ukuran biduran pada anak dapat berbeda-beda saat muncul, ada yang berukuran kecil hingga besar. Umumnya biduran pada anak akan hilang dengan sendirinya atau diredakan dengan mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter. Nah, sebelum konsultasi dengan dokter, sebenarnya ada beberapa langkah pertolongan pertama yang bisa Mums lakukan untuk mengurangi rasa gatal akibat biduran. 

Dalam mengatasi biduran pada anak, Mums juga perlu tahu dulu gejala dan penyebab yang memicu kondisi ini. Oleh karena itu, kita simak penjelasannya dalam artikel ini, yuk! 

Seperti Apa Gejala Biduran pada Anak?

Biduran pada anak dapat memicu beberapa gejala yang dirasakan oleh buah hati Mums, di antaranya:

  • Muncul bentol atau ruam merah di kulit dengan ukuran yang berbeda-beda
  • Kulit di sekitar biduran memerah
  • Bengkak pada kulit
  • Muncul rasa gatal
  • Adanya sensasi terbakar atau panas

Biduran pada anak umumnya akan hilang dalam waktu 1 hari atau bisa bertahan selama beberapa minggu. Awalnya mungkin Mums akan melihat bentuk biduran seperti gigitan serangga, tetapi biduran ini nantinya bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Rata-rata biduran akan muncul pada area wajah, kaki, dan tangan, namun tak menutup kemungkinan area lainnya juga bisa terkena biduran. Meskipun kondisi ini dapat hilang dengan sendirinya, tetapi jika Mums tidak mengatasi biduran pada anak dengan cepat dan tepat justru bisa memicu biduran kronis. Pada biduran kronis, gejala yang muncul biasanya disertai mual, muntah, hingga sakit perut di bagian atas. 

Melansir laman resmi medicalnewstoday.com, saat kondisi biduran berkembang menjadi lebih serius, kemungkinan besar akan memicu munculnya anafilaksis. Anafilaksis adalah gejala yang muncul akibat adanya reaksi alergi pada anak yang lebih serius. Biasanya gejala anafilaksis akan menunjukkan beberapa tanda berikut ini:

  • Pucat dan lemas
  • Kesulitan bernapas
  • Lidah bengkak
  • Mengi
  • Batuk terus menerus
  • Tenggorokan bengkak
  • Susah bicara
  • Pingsan

Apabila biduran pada anak bertahan kurang dari 6 minggu, maka kondisi tersebut menjadi biduran akut. Jika biduran bertahan lebih dari 6 minggu, maka disebut sebagai biduran kronis. Melihat kondisi ini, Mums tentu tidak ingin kondisi biduran pada anak lebih parah, kan? Untuk itu, Mums perlu memahami penyebab dan cara mengatasinya secara tepat. 

Apa Penyebab Biduran pada Anak?

Sama seperti yang dialami orang dewasa, biduran pada anak biasanya disebabkan oleh beberapa faktor pemicu, di antaranya:

  • Reaksi alergi terhadap: makanan tertentu, obat-obatan, bulu hewan peliharaan, dan/atau gigitan serangga
  • Berada di lingkungan dengan cuaca dan suhu ekstrim, misalnya suhu yang terlalu dingin
  • Mengalami stres berlebihan

Melansir laman resmi kidshealth.com, beberapa jenis makanan dan obat-obatan yang mungkin menjadi penyebab biduran, di antaranya kacang, telur, kerang, tiram, udang, ikan, obat antikonvulsan, obat aspirin, dan lain sebagainya. Namun, biduran juga bisa disebabkan oleh penyakit infeksi, luka atau goresan, olahraga, dan tekanan fisik. Biduran yang dipicu oleh tekanan fisik, seperti cuaca dingin atau paparan sinar matahari disebut juga dengan istilah biduran fisik. 

Mungkin Mums bertanya-tanya, apakah biduran ini akan menular? Jawabannya tentu tidak, Mums. Pada dasarnya biduran tidak menular, kondisi ini justru bisa menghilang dengan cepat jika diatasi dengan tepat. 

Bagaimana Pertolongan Pertama Biduran pada Anak?

Meskipun biduran pada anak bisa berubah menjadi kondisi yang lebih serius, namun Mums tidak perlu terlalu khawatir. Sebab, tidak selamanya biduran pada anak harus ditangani ke rumah sakit. Bila tidak menunjukkan gejala yang parah, biduran bisa ditangani dengan beberapa langkah mudah di rumah.

Pertolongan pertama biduran pada anak bisa dilakukan dengan mengurangi efek dari ruam yang muncul, misalnya mengurangi rasa gatal yang mengganggu kenyamanan anak. Berikut ini beberapa pertolongan pertama yang bisa Mums lakukan untuk mengurangi gejala biduran, antara lain:

  • Jauhkan anak dari pemicu alergi (alergen)

    Cara pertama yang bisa Mums lakukan, yaitu menjauhkan anak dari sesuatu yang menyebabkan alergi. Dalam hal ini, Mums harus mengetahui penyebab alergi pada anak yang memicu munculnya biduran. Misalnya, bila anak mengalami biduran karena setelah mengonsumsi soya atau kacang kedelai, maka hentikan pemberian soya atau kacang kedelai tersebut hingga kondisinya membaik. 

    Intinya, jika anak terpapar zat atau bahan tertentu yang memicu biduran, segera jauhkan alergen tersebut untuk mengurangi gejala yang muncul. Usahakan pula untuk menjaga area kulit yang terkena biduran agar terpapar udara sebanyak mungkin. Hindari membiarkan area tersebut dalam kondisi lembap dan tertutup. 

  • Lakukan kompres dingin

    Mums juga bisa meringankan gejala biduran pada anak dengan cara mengompres bagian kulitnya dengan kompres dingin. Cara ini bisa mengurangi rasa gatal yang dialami oleh anak. 

    Caranya cukup mudah, Mums bisa merendam kain atau handuk pada wadah berisi air suhu ruang, lalu peras kain tersebut dan letakkan di area kulit yang terkena biduran. Selain itu, pastikan anak mengenakan baju yang longgar dan terbuat dari bahan yang menyerap keringat. Namun, jika biduran pada anak disebabkan oleh udara dingin, maka jangan memberikan ia kompres air dingin ya, Mums.

  • Cegah anak menggaruk kulit yang terkena biduran

    Biduran pada anak bisa memicu rasa gatal yang sangat mengganggu. Kondisi ini membuat buah hati Mums ingin menggaruk bagian kulit tersebut. Sebaiknya Mums memantaunya agar tidak menggaruk bagian kulit yang terkena biduran. Jika dibiarkan, maka kondisi biduran bisa jadi lebih buruk.

  • Gunakan sabun dan perawatan kulit yang tepat

    Cara selanjutnya yaitu menggunakan sabun dan perawatan kulit lainnya secara tepat. Mums bisa memilih sabun khusus untuk kulit sensitif dan tidak mengandung bahan kimia yang bisa mengiritasi kulit anak. 

  • Hindari paparan sinar matahari langsung

    Cuaca atau suhu panas bisa memperburuk rasa gatal akibat biduran. Supaya kondisi tersebut tidak terjadi, sebaiknya hindarkan anak dari paparan sinar matahari maupun ruangan yang panas. Pastikan ia tidak berdiam di bawah sinar matahari langsung. 

Jika biduran pada anak tak kunjung membaik, segeralah bawa ia ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Hindari memberikan obat tanpa anjuran dokter karena khawatir memicu gangguan kesehatan lain pada buah hati Mums. 

Sebagai salah satu upaya untuk mendukung daya tahan tubuh anak, maka Mums perlu memberikan ia asupan nutrisi berkualitas, salah satunya susu FRISO Gold 3 karena mengandung nutrisi alami, bebas sukrosa, tanpa perisa, dan tetap memiliki rasa yang enak. 

Dengan melalui proses pengolahan satu kali (single process), kandungan nutrisi alami di dalam susu FRISO Gold 3 tidak rusak sehingga lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan anak. Selain itu, susu FRISO Gold 3 juga mengandung prebiotik, probiotik, nukleotida, vitamin, dan mineral yang tinggi, serta didukung oleh teknologi Locknutri yang menjaga kualitas nutrisi alami susu sehingga mudah diserap tubuh si Kecil agar membantunya kuat dari dalam.

 

Disadur dari berbagai sumber dan ditinjau Oleh: dr. Rulli P.A Situmorang