Lompat ke isi utama
Gejala perkembangan janin

Kenali Gejala Janin Tidak Berkembang Sebelum Terlambat!

Janin tidak berkembang berbeda dengan janin tumbuh lambat. Mums harus tahu gejala, penyebab, dan penanganannya sebelum terlambat!

Kondisi janin tidak berkembang disebut juga sebagai blighted ovum atau kehamilan kosong. Istilah kehamilan kosong ini sering digunakan dalam dunia medis. Kehamilan kosong merupakan kondisi terbentuknya kantung kehamilan, tetapi di dalamnya tidak terdapat embrio. 

Kondisi janin tidak berkembang ini terjadi apabila sel telur dalam rahim sudah dibuahi, tetapi tidak berkembang ke tahap selanjutnya menjadi embrio atau bakal janin. Lantas, apa bedanya dengan janin tumbuh lambat atau Intrauterine Growth Restriction (IUGR)? IUGR merupakan keterlambatan pertumbuhan fisik bakal janin yang tidak sesuai dengan usia perkembangan yang semestinya.

Apa Penyebab Janin Tidak Berkembang?

Saat kondisi kehamilan normal, sel telur yang telah dibuahi akan membelah dan membentuk embrio. Plasenta mulai berkembang dan terjadilah peningkatan hormon kehamilan yang dialami oleh ibu hamil. 

Namun, pada kasus janin tidak berkembang, sel telur yang telah dibuahi tersebut gagal membelah diri menjadi embrio. Janin tidak berkembang juga bisa terjadi saat pembelahan sel zigot berhenti setelah menempel pada dinding rahim. Apa yang menyebabkan kondisi janin tidak berkembang ini terjadi? Simak penjelasannya berikut ini: 

  1. Kerusakan kromosom

    Janin tidak berkembang umumnya disebabkan oleh kerusakan kromosom yang akhirnya menyebabkan keguguran. Salah satu jenis kelainan kromosom yang paling sering menjadi faktor pemicu janin tidak berkembang adalah trisomi. Setidaknya, 30% janin yang memiliki kelainan kromosom trisomi berakhir keguguran.

  2. Faktor genetik atau keturunan

    Janin tidak berkembang juga bisa disebabkan oleh faktor genetik atau keturunan. Kondisi ini bisa terjadi apabila dalam keluarga Mums ada yang pernah mengalami kondisi serupa. Kondisi kelainan genetik ini dipengaruhi oleh proses pembelahan sel yang tidak normal, seperti adanya gangguan gen tunggal, pernikahan sedarah, dan kerusakan DNA pada sperma. Nah, pembelahan sel yang abnormal inilah yang bisa memicu perdarahan pada vagina dan menyebabkan keguguran. 

  3. Stres

    Melansir laman resmi Mayo Clinic, janin tidak berkembang juga bisa dipicu oleh kondisi ibu hamil yang mengalami stres yang sangat parah. Sekira 10-20% ibu hamil mengalami keguguran akibat janin tidak berkembang atau kehamilan kosong. Kondisi inilah yang paling banyak terjadi di trimester awal kehamilan, ketika sebagian Mums belum menyadari dirinya sedang hamil.

  4. Penyakit tuberkulosis

    Penyakit tuberkulosis juga bisa menjadi penyebab janin tidak berkembang. Tuberkulosis merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan dan dapat mengganggu fungsi organ reproduksi wanita. 

    Ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit tuberkulosis dan infeksi saluran reproduksi memiliki kemungkinan yang cukup tinggi mengalami janin tidak berkembang. Komplikasi dari infeksi saluran reproduksi tersebut mencakup perlekatan di dalam rahim yang dapat menghambat implantasi dan pertumbuhan embrio. 

  5. Penyakit autoimun

    Janin tidak berkembang juga bisa disebabkan oleh penyakit autoimun. Pada kondisi ini, tubuh ibu hamil mungkin menolak embrio yang ditanamkan ke dalam rahim, sehingga menyebabkan gagal berkembang dan berakhir keguguran.

  6. Faktor hormonal

    Kondisi janin yang tidak berkembang juga ternyata bisa disebabkan oleh faktor hormonal lho, Mums. Beberapa faktor pemicunya antara lain kadar hormon progesteron yang terlalu rendah, adanya gangguan endokrin (penyakit yang terkait dengan kelenjar endokrin pada tubuh, salah satunya diabetes), disfungsi tiroid, sindrom polikistik ovarium atau PCOS. 

Kendati demikian, ada pula beberapa kondisi lain yang bisa menjadi penyebab kehamilan kosong yang dialami oleh sebagian ibu hamil. Sebab, pada dasarnya penyebab dari janin yang tidak berkembang sebenarnya sulit untuk dipastikan. Namun, penyebab di atas merupakan kondisi gangguan kesehatan yang paling sering dialami oleh sebagian besar ibu hamil saat mengalami kehamilan kosong. 

Apa Gejala Janin Tidak Berkembang?

Setelah mengetahui penyebabnya, lantas apa saja gejala yang dapat dialami oleh ibu hamil saat janinnya tidak berkembang? Nah, janin tidak berkembang biasanya baru disadari oleh para ibu hamil pada minggu ke-8 atau minggu ke-13. 

Perlu Mums ketahui, meskipun saat itu tidak terdapat janin di dalam rahim, tetapi sebagian ibu hamil mungkin saja masih mengalami gejala kehamilan pada umumnya, seperti hasil test pack positif, menstruasi berhenti, muncul mual dan muntah, serta nyeri pada payudara. Namun, saat zigot berhenti tumbuh dan hormon kehamilan menurun, saat itulah gejala kehamilan yang sebelumnya akan menghilang. 

Selanjutnya, Mums akan mengalami gejala yang mengarah pada kondisi keguguran, seperti perdarahan vagina dan muncul rasa nyeri di perut bagian bawah. Namun, ada juga sebagian Mums yang justru tidak mengalami gejala keguguran seperti itu. 

Baca juga: Perbedaan Flek saat Hamil yang Normal dan Berbahaya

Seperti Apa Penanganan Janin Tidak Berkembang?

Kondisi janin tidak berkembang dapat dideteksi melalui USG kehamilan. Setelah Mums mengetahui janin tidak berkembang, biasanya dokter akan menyarankan beberapa tindakan medis, seperti berikut ini:

  • Menunggu sampai keguguran yang alami dapat terjadi
  • Mengonsumsi obat khusus untuk merangsang peluruhan embrio
  • Melakukan tindakan kuretase atau dilatasi yang merupakan prosedur medis untuk menghilangkan jaringan plasenta dari dalam rahim

Akan tetapi, Ibu perlu tahu juga bahwa pilihan menunggu keguguran alami terjadi justru bisa meningkatkan risiko komplikasi. Keguguran alami bisa terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama sehingga harus terus di bawah pantauan dokter. Selain itu, jika masih ada jaringan yang tertinggal di dalam rahim pasca keguguran alami, maka tindakan kuretase dan dilatasi tetap dibutuhkan untuk menghindari infeksi.

Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa rutin memeriksa kondisi kehamilan sejak trimester awal sampai akhir merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh setiap ibu hamil. Sejak trimester awal, sebaiknya Mums rutin mengontrol diri ke dokter kandungan atau bidan untuk mengetahui perkembangan janin. Dengan begitu, Mums bisa mengantisipasi apabila ada gangguan yang dialami oleh janin dalam kandungan. 

Selain rutin memeriksa kandungan ke dokter atau bidan, penting bagi Mums untuk memenuhi asupan nutrisi berkualitas. Seperti yang diketahui, ibu hamil membutuhkan asupan nutrisi yang lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Ini karena nutrisi dari makanan yang Mums konsumsi akan dibagi dua, yaitu untuk Mums dan janin dalam kandungan.

Oleh karena itu, hal-hal seperti ini selayaknya sudah diperhatikan oleh Mums sejak masa program hamil. Mums juga perlu memeriksakan diri mengenai status gizi, kesehatan tubuh, dan lainnya kepada dokter. Dengan begitu, dokter akan memastikan apakah Mums perlu mendapatkan asupan nutrisi berupa suplemen atau tidak.

Selama masa kehamilan, sejak trimester awal sampai bayi lahir, Mums juga sebaiknya mengonsumsi susu khusus ibu hamil dan menyusui sebagai nutrisi tambahan yang dapat mendukung kesehatan Mums dan tumbuh kembang bayi. 

Nah, susu Frisomum Gold Dualcare+ bisa menjadi solusi tepat karena mengandung zat besi, kalsium, ALA/LA, prebiotik, probiotik, dan nukleotida untuk mendukung kesehatan Mums dan tumbuh kembang bayi selama dalam kandungan hingga masa menyusui. Di samping konsumsi susu Frisomum Gold Dualcare+, Mums juga harus mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang lainnya, menghindari makanan yang dilarang untuk ibu hamil, serta menjalani pola hidup sehat dan aktif agar badan tetap fit.

 

Ditinjau Oleh: dr. Rulli P.A Situmorang