Lompat ke isi utama
ASI Eksklusif
Pemberian ASI merupakan nutrisi terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan merupakan cara optimal untuk memberi makan kepada bayi. Setelah itu bayi harus menerima makanan pelengkap dengan terus menyusu hingga dua tahun atau lebih. Nutrisi ibu yang baik membantu mempertahankan persediaan dan kualitas ASI yang memadai. Pengenalan pemberian susu botol secara tidak benar, sebagian atau seluruhnya, atau makanan dan minuman pelengkap lainnya dapat memberikan dampak negatif pada proses menyusui, yang mungkin tidak dapat dipulihkan lagi. Konsultasikan dengan dokter Anda dan pertimbangkan implikasi sosial dan finansial sebelum memutuskan untuk menggunakan pengganti ASI atau jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusui. Ikuti petunjuk penggunaan, persiapan dan penyimpanan pengganti ASI atau makanan dan minuman komplementer lainnya dengan hati-hati karena penggunaan yang tidak tepat atau tidak diperlukan dapat menimbulkan bahaya terhadap kesehatan.
Ciri DBD

Ketahui Ciri-ciri DBD pada Anak yang Perlu Mums Waspadai

Ciri-ciri DBD pada anak bukan hanya demam yang naik turun, Mums perlu waspada jika si Kecil mengajalami gejala tambahan lain.

Tahukah Mums bahwa kasus DBD di Indonesia sudah ada sejak tahun 1968 dan masih terus muncul hingga saat ini. Bahkan, peningkatan kasus DBD terus terjadi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Juni 2021 total kasus DBD di Indonesia mencapai sekira 16,320 kasus. 

Kasus DBD tersebut tak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Bahkan, kasus DBD pada anak-anak masih cukup memprihatinkan karena tak sedikit pula anak-anak meninggal akibat terpapar DBD. Kondisi ini harus menjadi perhatian lebih oleh para orang tua agar bisa mencegah DBD menyerang anak-anak. Namun, Mums tidak perlu khawatir ya, karena Mums bisa melakukan sejumlah pencegahan agar si Kecil tidak terpapar DBD.

Perlu Mums ketahui bahwa DBD adalah salah satu penyebab kematian anak yang cukup tinggi di sebagian negara Asia, termasuk Indonesia. Menurut Kementerian Kesehatan RI, hingga Juni 2021, kasus penyakit DBD masih mengalami peningkatan, terutama saat musim hujan dan banjir. Sebelum mengetahui apa saja ciri-ciri DBD pada anak, kita simak dulu apa itu penyakit DBD dan penyebabnya yuk, Mums! 

Apa itu DBD?

Demam berdarah atau disebut juga dengan demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang muncul akibat terjadinya kebocoran plasma atau cairan dalam pembuluh darah, disertai dengan kadar trombosit yang menurun. Fungsi trombosit itu sendiri untuk mencegah atau menghentikan perdarahan. 

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus Dengue. Virus ini masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk jenis Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang hidup di wilayah tropis dan subtropis. 

Meskipun begitu, perlu Mums ketahui bahwa penyakit DBD memiliki derajat keparahan. Artinya, anak yang menderita penyakit DBD derajat ringan mungkin saja masih bisa dirawat di rumah. Akan tetapi, Mums perlu mengerti terlebih dahulu gejala dan ciri-ciri DBD pada anak yang tidak begitu parah hingga yang perlu diwaspadai agar bisa diatasi dengan lebih baik. 

Gejala dan Ciri-ciri DBD pada Anak

Meskipun ciri-ciri DBD pada anak seringkali diawali dengan demam yang tinggi, tetapi ada gejala lain yang bisa Mums ketahui agar si Kecil bisa mendapat penanganan lebih cepat. Berikut adalah beberapa ciri-ciri DBD pada anak:

  1. Demam

    Seperti yang telah disebutkan, demam biasanya menjadi ciri-ciri DBD pada anak yang muncul pertama kali. Demam karena DBD ditandai dengan peningkatan suhu tubuh si Kecil hingga mencapai 40 derajat celsius. 

    Demam yang merupakan ciri-ciri DBD pada anak berbeda dibandingkan demam biasa. Saat si Kecil menderita DBD, demam akan naik turun. Biasanya pada hari ke-3 sampai ke-5, demam akan turun, tetapi hari selanjutnya akan meningkat lagi. 

    Saat demam turun, suhu tubuhnya bisa menurun hingga di bawah 38 derajat celsius, tetapi setelah itu suhu tubuhnya akan meningkat kembali. Saat demam turun, Mums sebaiknya jangan lengah karena mungkin saja itu pertanda si Kecil memasuki masa kritis karena ia berisiko mengalami penyakit DBD yang lebih berat. 

  2. Bintik merah pada kulit

    Ciri-ciri DBD pada anak bisa Mums ketahui dari munculnya bintik-bintik merah pada kulit si Kecil. Bintik atau ruam merah ini biasanya akan muncul di bagian wajah, leher, dada, kaki, atau di bagian lainnya. Jika kulit diregangkan atau diusap, bintik merah tersebut akan tetap terlihat.

    Bintik merah pada awal gejala DBD biasanya timbul 2-5 hari setelah si Kecil mengalami demam. Ciri-ciri DBD pada anak ini mulanya akan berbentuk seperti bercak kemerahan, yang terkadang disertai dengan beberapa bercak putih di bagian tengahnya. Bintik merah kemudian akan berkurang saat memasuki hari ke-4 dan ke-5, hingga akhirnya bintik merah menghilang setelah hari ke-6.

    Setelah itu, bintik merah yang baru akan muncul 3-5 hari setelah gejala pertama muncul. Wujud bintik merah inilah yang terkadang membuat Mums terkecoh karena mirip dengan bintik merah akibat campak.

  3. Mual dan muntah terus menerus

    Ketika si Kecil mengalami DBD dan sering muntah, ia pasti jadi malas makan bahkan kesulitan untuk mengonsumsi makanan tertentu. Padahal, tubuhnya membutuhkan asupan nutrisi untuk membantu proses pemulihan. 

    Mual dan muntah merupakan bagian dari ciri-ciri DBD pada anak yang tidak bisa dianggap sepele ya, Mums. Ini karena mual dan muntah yang terlalu sering menyebabkan si Kecil rentan kehilangan cairan di dalam tubuhnya sehingga bisa dehidrasi. Kondisi ini bisa berbahaya jika tidak diatasi dengan cepat. 

    Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), biasanya anak-anak yang mengalami DBD akan muntah minimal 3 kali sehari. Namun, pada sebagian anak, ada pula yang frekuensinya lebih banyak atau lebih sedikit. 

    Baca juga: 8 Jenis Ruam Merah pada Kulit Anak

  4. Muncul perdarahan yang tak biasa

    Seperti yang Mums ketahui, ciri-ciri DBD pada anak bisa dibedakan berdasarkan tingkat keparahannya. Jika DBD yang biasa hanya berlangsung selama 5-7 hari, tetapi DBD yang sudah memasuki fase yang parah berisiko memicu komplikasi yang fatal, salah satunya perdarahan. 

    Saat si Kecil mengalami DBD, mungkin saja ia akan mengalami kebocoran plasma yang menyebabkan perdarahan serius di dalam tubuhnya. Kebocoran plasma darah ini berkaitan erat dengan virus Dengue yang menyerang pembuluh darah. Dinding pembuluh darah melemah akibat infeksi virus Dengue, sehingga kebocoran plasma darah lebih mudah terjadi. 

    Ciri-ciri DBD pada anak tersebut bisa semakin parah karena kadar trombosit yang rendah. Sebab, perdarahan lebih mudah terjadi jika trombosit menurun drastis. Ini mengakibatkan penderita DBD lebih mudah mengalami sejumlah gejala lain, seperti mimisan, gusi berdarah, dan munculnya memar berwarna keunguan di beberapa bagian tubuh. 

    Ciri-ciri DBD pada anak yang parah juga bisa memicu komplikasi lain, yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS) atau sindrom syok dengue. Menurut CDC, penderita DBD yang mengalami DSS akan mengalami gejala tambahan, seperti denyut nadi melemah, tekanan darah turun drastis, pupil mata melebar, napas tidak teratur, dan kulit sangat pucat serta muncul keringat dingin. 

Meskipun ciri-ciri DBD pada anak bisa terlihat ringan, namun sebaiknya Mums tetap membawa si Kecil ke dokter sesegera mungkin jika mengalami gejala awal dari DBD. Sebab, penanganan oleh tim medis kemungkinan besar akan lebih tepat, sehingga proses penyembuhannya pun lebih cepat. 

Selain itu, untuk mencegah DBD pada anak, sebaiknya Mums perlu meningkatkan daya tahan tubuh si Kecil dengan memberikan ia makanan sehat dan bergizi, menjalani pola hidup sehat, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan. 

Salah satu cara yang bisa Mums lakukan yaitu dengan memberikan si Kecil susu pertumbuhan agar mendukung daya tahan tubuhnya dengan baik. Nah, susu FRISO Gold 3 bisa jadi solusi yang tepat karena mengandung nutrisi alami, tanpa perisa, bebas sukrosa, dan tetap memiliki rasa yang enak. 

Susu FRISO Gold 3 termasuk susu bernutrisi tinggi yang diperkaya dengan kandungan prebiotik, probiotik, nukleotida, vitamin, dan mineral, serta didukung oleh teknologi Locknutri yang menjaga kualitas nutrisi alami susu sehingga mudah diserap tubuh si Kecil agar membantunya kuat dari dalam. 

 

Ditinjau Oleh: dr. Rulli P.A Situmorang