Lompat ke isi utama
sukrosa

Mengenal Sukrosa, Glukosa, Fruktosa, dan Laktosa: Apa Bedanya?

Si Kecil gemar mengonsumsi makanan atau minuman manis? Hati-hati, Mums harus lebih cermat mengetahui jenis gula yang ia konsumsi. Apakah makanan tersebut mengandung gula sukrosa, glukosa, fruktosa, atau laktosa? Sebab, keempat jenis gula tersebut berasal dari sumber yang berbeda dan dapat memberikan efek samping terhadap tumbuh kembang si Kecil.

Oleh karena itu, pemberian makanan atau minuman manis pada anak sebenarnya harus dibatasi dengan tepat, khususnya makanan yang tinggi sukrosa. Sebab, sukrosa merupakan jenis gula pasir yang sering kita temui sehari-hari. Gula jenis ini bisa menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan si Kecil jika dikonsumsi secara berlebihan.

Konsumsi sukrosa yang berlebihan bisa berubah menjadi lemak dan meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh. Akibatnya, si Kecil berisiko mengalami gigi keropos, obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan pertumbuhannya terhambat. Kendati demikian, Mums tidak perlu khawatir karena bisa mengurangi atau menghindari gula ini dengan jenis pemanis alami lain atau memilih makanan yang bebas sukrosa. 

American Heart Association menganjurkan anak-anak yang berusia di atas 2 tahun sebaiknya mengonsumsi gula pasir dengan kadar kurang dari 25 gram atau setara 6 sendok teh setiap hari. Sedangkan, anak-anak yang berusia di bawah 2 tahun sebaiknya tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula pasir (sukrosa). Asupan jenis gula ini bisa disesuaikan kembali oleh Mums sesuai dengan kebutuhan si kecil setiap harinya. 

Perbedaan Sukrosa, Glukosa, Fruktosa, dan Laktosa

Sebelum membahas lebih lanjut terkait efek samping konsumsi makanan atau minuman manis, Mums perlu tahu bahwa ada 4 jenis gula yang biasa dikonsumsi hampir setiap hari, di antaranya: 

  • Sukrosa

    Sukrosa merupakan nama lain dari gula pasir yang mungkin setiap hari Mums gunakan sebagai bahan pelengkap di setiap masakan. Sukrosa adalah gabungan dari 2 molekul, yaitu fruktosa dan glukosa. Karena sukrosa terdiri dari glukosa dan fruktosa, maka rasanya lebih manis daripada glukosa dan kurang manis bila dibandingkan dengan fruktosa. Saat sukrosa dicerna dan diserap ke aliran darah, tubuh akan mengutamakan penggunaan glukosa terlebih dahulu karena prosesnya lebih mudah. Sedangkan, fruktosa akan disimpan terlebih dahulu dalam bentuk lemak.

  • Glukosa

    Glukosa merupakan bentuk paling sederhana dari gula. Glukosa sangat mudah dicerna karena molekulnya tidak perlu dipecah lagi dan langsung diserap ke dalam aliran darah. Glukosa dapat langsung diubah menjadi energi di dalam sel melalui bantuan hormon insulin. Hormon insulin merupakan bagian penting dari sistem metabolisme tubuh. Tanpa hormon ini, sel-sel akan kekurangan energi dan harus mencari sumber penggantinya. Dibandingkan sukrosa dan fruktosa, glukosa memiliki rasa yang tidak terlalu manis dan umumnya ditemukan pada makanan berkarbohidrat tinggi, seperti roti, nasi, dan jagung. 

  • Fruktosa

    Fruktosa merupakan jenis gula yang sering ditemukan dalam buah, madu, dan sebagian jenis umbi-umbian. Jika dibandingkan jenis gula lainnya, fruktosa memiliki rasa yang paling manis. Meskipun begitu, fruktosa tidak langsung menaikkan kadar gula darah. Proses untuk menjadikannya sumber energi juga relatif lebih rumit karena harus diubah menjadi glukosa terlebih dahulu di organ hati. 

  • Laktosa

    Selain ketiga jenis gula di atas, terdapat pula jenis gula laktosa yang merupakan gabungan dari glukosa dan galaktosa. Gula ini secara alami didapatkan pada ASI atau produk susu hewani, tetapi juga bisa ditemukan pada makanan atau minuman yang sudah diproses. Laktosa bisa menjadi sumber energi untuk si Kecil dan diketahui memiliki efek yang baik bagi metabolisme tubuh si Kecil. Tak hanya itu, laktosa dalam makanan atau minuman juga dapat meningkatkan jumlah bakteri dalam usus dan mengoptimalkan penyerapan nutrisi lain, seperti vitamin B12 dan kalsium. 

Dampak Konsumsi Sukrosa Berlebih pada Anak

Seperti yang telah disebutkan, sukrosa merupakan pemanis yang sering kali ditambahkan ke dalam makanan atau minuman kemasan. Bila dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka waktu yang lama, maka si Kecil akan berisiko mengalami beberapa kondisi berikut ini: 

  1. Kerusakan pada gigi 

    Makanan dan minuman manis sangat tidak bersahabat terhadap gigi si Kecil. Oleh karena itu, terlalu sering mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula bisa menimbulkan kerusakan gigi. Sebab, sisa gula yang menumpuk di celah-celah gigi si Kecil akan bercampur dengan bakteri mulut. Akibatnya, gigi si Kecil akan keropos dan berlubang. 

    Kerusakan gigi juga akan berdampak buruk terhadap tumbuh kembang si Kecil secara keseluruhan. Kerusakan gigi pada si Kecil bisa Mums cegah dengan mengurangi makanan dan minuman tinggi sukrosa, rajin menyikat gigi dua kali dalam sehari, dan rutin periksa ke dokter gigi setiap enam bulan sekali. 

  2. Meningkatkan risiko obesitas

    Di dalam tubuh, sukrosa akan diubah menjadi lemak. Jika si Kecil mengonsumsi makanan dan minuman tinggi sukrosa secara berlebihan dan terus menerus, serta tidak diimbangi dengan aktivitas yang memadai, maka kadar lemaknya akan semakin meningkat dan menyebabkan ia kelebihan berat badan hingga mengalami obesitas. 

    Meskipun sebagian besar Mums mungkin senang melihat badan anaknya berisi, tetapi kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele lho. Bila tidak segera diatasi, obesitas pada anak bisa mengganggu aktivitas si Kecil dan memicu munculnya berbagai penyakit kronis di masa mendatang, seperti diabetes dan penyakit jantung. 

  3. Terhambatnya asupan nutrisi lain

    Makanan dan minuman tinggi sukrosa memang memiliki rasa yang enak, sehingga tak heran bila banyak anak-anak yang ketagihan. Selain itu, makanan dan minuman manis tersebut akan membuatnya kenyang, sehingga ia tidak mau mengonsumsi makanan utama yang Mums sajikan. Namun, bila kebiasaan ini terjadi dalam waktu yang lama, asupan nutrisi lain yang dibutuhkan oleh tubuh si Kecil akan terhambat. Padahal, makanan bergizi seimbang sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang si Kecil. 

    Oleh karena itu, Mums bisa memperkenalkan makanan dengan kandungan gula alami, seperti buah-buahan dan sayuran sebagai camilan sehat anak. Dengan begitu, si kecil akan terbiasa dengan rasa alami dalam makanan dibandingkan makanan dengan kandungan sukrosa tinggi. 

Memang tidak mudah menghindari makanan dan minuman tinggi gula jika si Kecil sudah terbiasa mengonsumsinya. Namun, setidaknya Mums bisa mulai mengurangi asupan sukrosa secara perlahan agar kesehatan si Kecil tetap terjaga hingga dewasa. Salah satu caranya dengan memilih susu pertumbuhan yang bebas sukrosa. Susu FRISO Gold 3 bisa jadi solusi karena mengandung nutrisi alami, tanpa perisa, bebas sukrosa, dan tetap memiliki rasa yang enak. 

Dengan kandungan nutrisi tinggi, susu FRISO Gold 3 juga diperkaya dengan kandungan prebiotik, probiotik, nukleotida, vitamin, dan mineral, serta didukung oleh teknologi Locknutri yang menjaga kualitas nutrisi alami susu sehingga mudah diserap tubuh si Kecil agar membantunya kuat dari dalam.

 

Ditinjau Oleh: dr. Rulli P.A Situmorang