Lompat ke isi utama
ASI Eksklusif
Pemberian ASI merupakan nutrisi terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan merupakan cara optimal untuk memberi makan kepada bayi. Setelah itu bayi harus menerima makanan pelengkap dengan terus menyusu hingga dua tahun atau lebih. Nutrisi ibu yang baik membantu mempertahankan persediaan dan kualitas ASI yang memadai. Pengenalan pemberian susu botol secara tidak benar, sebagian atau seluruhnya, atau makanan dan minuman pelengkap lainnya dapat memberikan dampak negatif pada proses menyusui, yang mungkin tidak dapat dipulihkan lagi. Konsultasikan dengan dokter Anda dan pertimbangkan implikasi sosial dan finansial sebelum memutuskan untuk menggunakan pengganti ASI atau jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusui. Ikuti petunjuk penggunaan, persiapan dan penyimpanan pengganti ASI atau makanan dan minuman komplementer lainnya dengan hati-hati karena penggunaan yang tidak tepat atau tidak diperlukan dapat menimbulkan bahaya terhadap kesehatan.
Penting!-Inilah-Ciri-Feses-Bayi-Diare-dan-Cara-Mengatasinya

Penting! Inilah Ciri Feses Bayi Diare dan Cara Mengatasinya

Mengganti popok berkali-kali dalam sehari mungkin hal yang biasa Mums lakukan. Sebab, bayi akan buang air besar (BAB) satu hingga tiga kali dalam sehari dan frekuensinya akan berkurang seiring usianya yang bertambah. Namun, jika frekuensi BAB bayi terlalu sering, Mums harus waspada karena bisa saja itu tanda bayi diare. Bayi diare harus mendapat penanganan yang cepat dan tepat, guna menghindari risiko berbahaya, salah satunya dehidrasi akut. Dehidrasi akibat bayi diare terjadi karena pada saat yang bersamaan, usus tidak mampu menyerap cairan yang diberikan, sehingga kadar cairan yang hilang dalam tubuh tidak cepat tergantikan. Kondisi inilah yang membuat bayi terlihat lemah, bibir dan mata kering, rewel, hingga bisa disertai demam tinggi. Perlu Mums ketahui, diare yang tidak ditangani secara langsung dan tepat bisa menyebabkan kematian pada bayi. Bahkan, data menyebutkan bahwa diare merupakan salah satu penyebab kematian bayi tertinggi di Indonesia. Efeknya lebih berbahaya dibanding diare yang dialami orang dewasa. Sebelum membahas cara mengatasi bayi diare, ada baiknya Mums mengenal lebih jauh gejala, penyebab, dan ciri feses bayi diare. 

Penting! Inilah Ciri Feses Bayi Diare dan Cara Mengatasinya 1

Ciri Feses Bayi Diare

Cara untuk mendeteksi penyakit ini adalah dengan melihat perubahan warna dan bentuk feses bayi diare sedini mungkin. Namun, terkadang Mums masih sulit membedakan apakah bayi mengalami diare atau hanya BAB lebih lunak dari biasanya. Pasalnya, feses bayi yang mengonsumsi ASI pun umumnya berwarna kekuningan, bertekstur lembut, dan cair.

Mums patut curiga bayi diare bila terjadi perubahan frekuensi BAB, seperti tiba-tiba jadi lebih sering dengan jumlah feses lebih banyak, bayi tampak lemas, dan feses bayi diare berubah jauh lebih lunak dan cair dari biasanya, serta mengeluarkan bau yang busuk. Sebaliknya, jika feses bayi berbentuk bulatan kecil, keras, dan jarang terjadi, maka itu adalah indikasi kondisi konstipasi pada bayi.

Gejala Bayi Diare

Gejala bayi diare yang masih dianggap wajar cukup dilihat dari ciri fesesnya, namun Mums harus membawa si kecil ke dokter jika mengalami gejala-gejala di bawah ini:

  • Mengalami muntah-muntah
  • Demam di atas 38 °C
  • Terlihat lesu dan rewel
  • Tidak mau minum susu
  • Feses bayi diare bisa sampai berwarna hitam, putih, atau merah
  • Terdapat darah atau nanah pada feses bayi diare
  • Dehidrasi, mulut kering, tidak buang air kecil dalam 3 jam atau lebih

Penyebab Bayi Diare

Meski diare termasuk gangguan pencernaan yang sering dialami bayi, namun kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi sebagian besar Mums. Apalagi melihat bayi yang rewel dan menangis karena merasa tak nyaman dengan kondisinya. Seringnya penyebab bayi diare muncul karena infeksi dan alergi. Untuk lebih jelasnya, berikut penyebab diare yang perlu Mums ketahui:

  • Infeksi virus, bakteri, atau kuman 

    Sistem pencernaan bayi masih sangat rentan terhadap infeksi virus, bakteri, dan kuman. Oleh karena itu, Mums perlu menjaga kebersihan si kecil dan lingkungan sekitar dari virus, bakteri, atau kuman. Selain itu, cara lainnya bisa dengan meningkatkan asupan ASI eksklusif untuk bayi baru lahir hingga 6 bulan agar sistem kekebalan tubuh si kecil semakin kuat. Sedangkan, untuk bayi yang sudah MPASI, pastikan bahan makanan yang dikonsumsi mengandung nutrisi tinggi untuk mendukung tumbuh kembang si kecil. 

  • Alergi terhadap makanan dan obat-obatan

    Alergi juga bisa jadi penyebab bayi diare lho, Mums. Pastikan untuk selalu teliti dengan makanan atau obat-obatan yang dikonsumsi si kecil agar mengetahui penyebab alerginya. 

  • Intoleransi laktosa

    Selain alergi makanan dan obat, bayi yang alergi terhadap susu sapi juga bisa mengalami diare. Untuk Mums yang masih menyusu ASI, lebih baik menghindari dulu mengonsumsi susu sapi. Jika si kecil sudah mengonsumsi MPASI, Mums bisa memilih susu selain susu sapi ya. 

  • Keracunan makanan

    Keracunan makanan bisa menjadi penyebab bayi diare karena berkaitan dengan kondisi sistem pencernaannya yang masih sensitif. Bayi diare karena keracunan makanan umumnya terjadi pada bayi yang sudah mengonsumsi MPASI. 

Baca juga: Anak Kekurangan Gizi? Hati-hati, Inilah Dampak Buruknya

Cara Mengatasi Bayi Diare 

Kondisi bayi diare yang masih dianggap ringan bisa diatasi dengan pertolongan pertama di rumah. Ada beberapa cara yang bisa Mums lakukan, antara lain:

  1. Memenuhi kebutuhan ASI

    Jika si kecil masih menyusu ASI, maka Mums harus melanjutkannya dengan meningkatkan frekuensi menyusui agar kebutuhan cairan si kecil dapat terpenuhi dengan baik. Sebagaimana yang diketahui, ASI termasuk nutrisi penting untuk bayi yang berusia 0-12 bulan. Untuk itu, Mums perlu menjaga kualitas ASI dengan baik agar nutrisinya bisa dicerna oleh si kecil. Frisomum Gold Dualcare+ hadir sebagai solusi susu khusus ibu hamil dan menyusui yang diformulasikan untuk menjaga kesehatan pencernaan Mums dan si kecil. Susu Frisomum Gold Dualcare+ diperkaya dengan kandungan zat besi, kalsium, serta ALA/LA, dan prebiotik yang baik untuk kesehatan tubuh. 

  2. Memenuhi kebutuhan cairan lain

    Cara mengatasi bayi diare yang tidak menyusu ASI, Mums tetap bisa memberikan susu formula sesuai dengan kebutuhan hariannya. Mums juga bisa menambah air putih hangat untuk menghindari si kecil dehidrasi. Alangkah lebih baik jika Mums berkonsultasi dulu dengan dokter dalam mengatasi bayi diare berusia 0-6 bulan yang tidak menyusu ASI. Sebab, ASI merupakan nutrisi utama dan sangat penting dibandingkan asupan lainnya. 

  3. Rawat kulit bayi dari ruam popok

    Selain menambah kebutuhan cairan si kecil, cara mengatasi bayi diare yang tak kalah penting adalah merawat kulit bayi, terutama di bagian yang tertutup popok. Ada beberapa langkah yang bisa Mums lakukan agar si kecil terhindar dari ruam popok, seperti:

    • Segera mengganti popok saat si kecil BAB
    • Kurangi penggunaan tisu, sebaiknya gunakan air untuk membersihkan bagian yang kotor
    • Pastikan pantat si kecil kering sebelum menggunakan popok baru
    • Mums bisa gunakan krim pencegah ruam popok

Dampak buruk bayi diare adalah dehidrasi. Dehidrasi terjadi ketika tubuh bayi tidak mendapatkan asupan cairan yang cukup sehingga fungsi organ tubuh pun akan terganggu. Kondisi dehidrasi karena diare rentan dialami bayi karena sistem kekebalan tubuhnya masih lemah, berat badan masih rendah, serta laju metabolisme bayi cenderung lebih tinggi dibandingkan orang dewasa, sehingga membuat bayi lebih sensitif jika kehilangan cairan. 

Rawat kulit bayi dari ruam popok

Kondisi dehidrasi karena bayi diare ini bisa berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Berikut tanda-tanda bayi mengalami dehidrasi karena diare, di antaranya:

  • Mata kering dan cekung
  • Saat menangis, air mata yang keluar sedikit atau bahkan tidak ada
  • Bayi sangat lesu
  • Lebih sensitif
  • Kulit, bibir, dan mulut kering

Pencegahan Bayi Diare

Agar si kecil tidak mengalami diare, ada baiknya Mums melakukan pencegahan awal, seperti :

  1. Penuhi kebutuhan cairan bayi dari asupan ASI dan air putih hangat agar tidak dehidrasi
  2. Perhatikan kebersihan lingkungan sekitar saat bayi tidur, makan, dan bermain
  3. Orang dewasa yang merawat bayi juga perlu menjaga kebersihannya agar tidak menularkan bakteri dan kuman yang dapat menyebabkan infeksi 
  4.  Jaga agar benda-benda yang dipegang bayi selalu bersih
  5. Jika bayi terpaksa mengonsumsi susu formula karena kondisi tertentu, pastikan Mums memilih susu yang tepat, sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter 

Permasalahan bayi diare termasuk kondisi yang umum namun cukup melelahkan, ya Mums? Semoga setelah membaca artikel tentang bayi diare ini, Mums bisa mencegah lebih dini agar si kecil tidak mengalami kondisi tersebut. Apabila si kecil sedang mengalami diare, semoga segera sembuh dan Mums bisa mengatasinya dengan baik. Pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter si kecil mengalami gejala-gejala lain saat diare.