Lompat ke isi utama
Penyebab cacar

Penyebab Cacar Berdasarkan Jenisnya, Mums Wajib Tahu!

Selain cacar air, ada pula penyebab cacar jenis lainnya yang perlu Mums ketahui agar bisa diobati dengan tepat

Tahukah Mums? Ternyata penyebab cacar yang dialami oleh si Kecil dapat dibedakan berdasarkan jenisnya lho. Mungkin selama ini Mums sering mendengar istilah cacar air sebagai salah satu penyakit yang kerap dialami oleh anak-anak. Penyebab cacar air yaitu infeksi virus herpes yang disebut dengan Varicella-zoster. 

Selain cacar air, Mums juga perlu mengetahui penyebab cacar berdasarkan jenis lainnya. Ini karena setiap jenis cacar disebabkan oleh virus yang berbeda dan cara pengobatannya pun berbeda. Dengan mengetahui penyebab cacar sesuai jenisnya, maka Mums bisa mengobati penyakit ini dengan tepat. 

Penyebab Cacar Berdasarkan Jenisnya

Berikut ini penyebab cacar yang dapat dibedakan sesuai jenis virusnya, antara lain: 

  1. Penyebab cacar: virus Varicella-zoster 

    Infeksi virus yang bernama Varicella-zoster merupakan penyebab cacar air dan cacar api pada anak-anak maupun orang dewasa. Virus ini mulanya menginfeksi saluran pernapasan, kemudian virus menyebar ke dalam pembuluh darah dan menyebabkan infeksi di jaringan kulit. 

    Meskipun penyebab cacar air dan cacar api adalah virus yang sama, namun kedua jenis cacar ini memicu gejala khasnya masing-masing. Oleh karena itu, langkah pengobatannya pun berbeda. Lantas, bagaimana penyebab cacar ini bisa menginfeksi kulit si Kecil dengan gejala yang berbeda? Simak ulasannya di bawah ini, yuk! 

    • Cacar air (chickenpox)

      Seperti yang telah disebutkan, penyebab cacar air yaitu infeksi virus herpes yang disebut dengan istilah varicella-zoster. Munculnya cacar air ditandai dengan munculnya ruam pada kulit berupa bintik-bintik merah yang menyebabkan rasa gatal yang cukup mengganggu kenyamanan si Kecil. 

      Meskipun penyebab cacar air memicu infeksi pada kulit, tetapi biasanya penderita akan mengalami demam dan gejala yang mirip penyakit flu terlebih dahulu pada 1 atau 2 hari sebelum kemunculan bintik merah.

      Setelah virus varicella-zoster sebagai penyebab cacar air sudah mulai menyebar, maka dalam waktu beberapa hati pun ruam merah akan berubah menjadi vesikel atau lenting yang berisi cairan. Lenting tersebut kemudian akan mengempis menjadi papula sebelum akhirnya mengering. 

    • Cacar api (herpes-zoster

      Penyebab cacar api juga karena infeksi virus varicella-zoster yang menyerang jaringan kulit. Jenis cacar ini disebut juga dengan istilah shingles atau cacar ular. Cacar api ditandai dengan munculnya ruam atau bintik merah dengan pola penyebaran yang mengumpul dan melingkar di salah satu bagian tubuh. 

      Banyak yang beranggapan bahwa anak akan terserang cacar api jika ia pernah terinfeksi cacar air untuk kedua kalinya. Padahal, penyebab cacar api bukanlah infeksi berulang kali dari virus Varicella-zoster. 

      Pada saat si Kecil terserang cacar air dan sembuh, virus tersebut tidak hilang dari tubuh. Virus Varicella-zoster dapat hidup dan “tidur” dalam sistem saraf tubuh selama bertahun-tahun sebelum aktif kembali sebagai cacar api.

    Meski penyebab cacarnya sama, tapi Mums perlu membedakan gejala cacar air dan cacar api dengan baik. Selain perbedaan pada pola penyebaran ruam, jenis cacar api juga menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan sensasi terbakar pada kulit. Kondisi tersebut disebabkan oleh rusaknya sel-sel saraf akibat reaktivasi virus dalam tubuh. 

  2. Penyebab cacar: virus genus Orthopoxvirus 

    Berbeda dengan cacar air dan cacar api, penyebab cacar virus orthopoxvirus terbilang tidak umum di Indonesia. Jenis cacar dari kelompok virus ini adalah cacar monyet dan moluskum kontagiosum.

    Cacar monyet atau monkeypox merupakan penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus langka dari hewan. Monyet adalah inang utama dari virus monkeypox. Maka dari itu, penyakit ini disebut dengan cacar monyet. Gejalanya secara umum mirip dengan penyakit cacar (smallpox), seperti demam dan ruam kulit yang melepuh menjadi lenting. Gejala juga disertai dengan pembengkakan pada kelenjar getah bening di ketiak. 

    Sementara itu, moluskum kontagiosum secara spesifik disebabkan oleh virus Molluscum contagiosum yang dapat menular bila bersentuhan langsung dengan kulit penderita, menggunakan barang yang digunakan penderita, dan berhubungan intim. 

    Penyakit moluskum kontagiosum ditandai dengan tumbuhnya bintil di kulit. Bintil biasanya tidak terasa nyeri, namun menimbulkan rasa gatal. Gejalanya cukup mudah dikenali dan biasanya dapat hilang dalam kurun waktu 6-12 bulan. 

    Karena kedua jenis cacar dari kelompok virus orthopoxvirus ini tidak umum di Indonesia, jadi Mums tidak perlu khawatir. Sedangkan, untuk cacar air dan cacar api, ada beberapa pengobatan yang bisa Mums lakukan kepada si Kecil. 

Pengobatan Cacar Berdasarkan Jenisnya

  • Pengobatan Cacar Air

    Pengobatan cacar air bertujuan untuk mempersingkat masa infeksi sehingga penyakit dapat sembuh lebih cepat, sekaligus untuk mengendalikan gejala yang dialami oleh si Kecil. Namun, cacar air termasuk penyakit yang dapat dicegah sepenuhnya melalui vaksinasi. Maka dari itu, penting bagi Mums untuk mengajak si Kecil melakukan imunisasi atau vaksinasi cacar agar terhindar dari penyakit ini. Karena bagaimana pun, mencegah akan lebih baik dibandingkan mengobati, kan? 

    Jika si Kecil sudah mengalami cacar air, Mums tidak perlu panik karena ada beberapa langkah sebagai pertolongan pertama yang bisa dilakukan secara mandiri untuk meringankan gejala cacar air, di antaranya:

  • Perbanyak minum air putih dan makan makanan sehat bertekstur lembut

    Selain di punggung, perut, dan wajah, bintil cacar juga dapat muncul di dalam mulut dan tenggorokan. Hal inilah yang menyebabkan si Kecil akan merasakan rasa panas dan tidak nyaman ketika menelan. Akibatnya, ia bisa jadi menolak ketika diberi makan ataupun minum. Nah, mums dapat meringankan kondisi tersebut dengan memberikan si Kecil air putih secara rutin, serta memberikan makanan sehat yang bertekstur lembut. 

    Selain itu, Mums juga tetap perlu memberikan susu kaya nutrisi untuk memenuhi gizi hnnya dengan tepat. Susu FRISO Gold 3 bisa menjadi pilihan tepat karena mengandung nutrisi alami, tanpa perisa, bebas sukrosa, dan tetap memiliki rasa yang enak. 

    FRISO Gold 3 merupakan susu bernutrisi tinggi yang diperkaya dengan kandungan prebiotik, probiotik, nukleotida, vitamin, dan mineral, serta didukung oleh teknologi Locknutri yang menjaga kualitas nutrisi alami susu sehingga mudah diserap tubuh si Kecil agar membantunya kuat dari dalam. 

  • Tidak menggaruk dan wajib mengenakan pakaian yang lembut

    Untuk mencegah cacar air semakin parah, pastikan si Kecil tidak menggaruk ruam tersebut. Mums dapat menggunting kuku si Kecil dan memberikannya pakaian yang longgar, lembut, dan lebih nyaman. 

  • Cegah penularan

    Cacar air merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Maka dari itu, bila si Kecil mengalami cacar air, sebaiknya batasi kontak dengan orang lain di luar rumah. Akan lebih baik jika si Kecil tetap di dalam rumah sampai cacar air sembuh.

  • Obat, salep, atau bedak pereda gatal

    Pengobatan lain untuk meredakan rasa gatal akibat cacar air yaitu dengan menggunakan obat, salep, atau bedak pereda gatal. Sebenarnya banyak jenis obat, salep, atau bedak yang dijual di pasaran, tetapi Mums sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar tidak salah memilih produk. Nantinya dokter akan memberikan obat atau salep sesuai dengan kondisi anak. 

  • Pengobatan Cacar Api

    Ada beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala cacar api, di antaranya:

    • Mengenakan pakaian longgar dan berbahan lembut, seperti katun untuk mencegah gesekan dan iritasi pada kulit
    • Menutup bintil agar tetap bersih dan kering dengan obat, salep, atau bedak yang sudah sesuai anjuran dokter 
    • Mandi dengan air dingin 
    • Menggunakan kompres dingin pada bintil

Untuk memastikan kondisi anak, tentu akan lebih baik jika Mums membawanya ke dokter. Nantinya dokter akan memeriksa dan mengobati sesuai kondisi anak, termasuk pemberian obat antivirus jika diperlukan.

 

Ditinjau Oleh: dr. Rulli P.A Situmorang